MENJADI WARGA DIGITAL YANG KOMPETEN: PENTINGNYA LITERASI TEKNOLOGI DALAM ERA DIGITAL
By: Fitri Cindy Fricilia
Era digital telah mengubah cara kita
berinteraksi, bekerja, belajar, dan bahkan berkomunikasi. Teknologi telah
menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari, mempengaruhi
berbagai aspek kehidupan manusia. Perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi telah menciptakan era di mana akses terhadap informasi, komunikasi
global, dan inovasi teknologi menjadi sangat penting. Dalam era digital ini,
teknologi memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk cara kita
menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari, teknologi
telah memengaruhi berbagai aspek, termasuk komunikasi, transportasi, hiburan,
pendidikan, kesehatan, dan banyak lagi. Misalnya, teknologi telah memungkinkan
kita untuk terhubung dengan orang-orang di seluruh dunia melalui media sosial,
email, dan aplikasi pesan instan. Di bidang transportasi, teknologi telah
memfasilitasi kemudahan akses dan mobilitas melalui aplikasi pemesanan
transportasi online. Di sektor pendidikan, teknologi telah memungkinkan adanya
pembelajaran jarak jauh, sumber belajar digital, dan platform pembelajaran
online. Selain itu, dalam bidang kesehatan, teknologi telah memainkan peran
penting dalam diagnosis, perawatan, dan manajemen informasi pasien.
Di era digital saat ini, literasi
teknologi menjadi semakin penting karena teknologi telah merasuki hampir setiap
aspek kehidupan kita. Di sektor pendidikan, literasi teknologi memungkinkan
metode pembelajaran yang lebih interaktif dan adaptif. Dalam kehidupan masyarakat
dan dalam dunia kerja, literasi teknologi menjadi keterampilan yang sangat
dibutuhkan, karena hampir semua pekerjaan membutuhkan penggunaan teknologi.
Faktanya kemahiran membaca siswa Indonesia
ditempatkan di urutan ke-69 dari 76 negara dalam survei Program untuk Penilaian
Siswa Internasional (PISA) 2015, yang melihat kemampuan membaca siswa lintas
negara. Vietnam, yang menempati urutan ke-12 dari semua negara yang diturunkan,
memiliki peringkat yang lebih tinggi dari yang ini (harianjogja.com, 2015).
Berdasarkan informasi dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan
Kebudayaan PBB (UNESCO) pada tahun 2012, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis
Baswedan (2014) merilis data minat membaca masyarakat Indonesia. Indeks minat
baca masyarakat Indonesia hampir tidak mencapai 0,001. Ini menunjukkan bahwa
hanya satu orang Indonesia dari setiap 1.000 yang tertarik membaca.
Dengan demikian, era digital telah
menciptakan lingkungan di mana teknologi menjadi bagian integral dari kehidupan
sehari-hari, memengaruhi cara kita bekerja, belajar, berinteraksi, dan bahkan
beristirahat. Oleh karena itu, penting untuk memahami peran teknologi dalam era
digital ini dan bagaimana literasi teknologi dapat menjadi kunci untuk
memanfaatkan teknologi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi
tidak bisa dipisahkan
dari dunia pendidikan.
Pada awal munculnya
literasi dikenal sebagai kemampuan
membaca, namun seiring
berjalannya waktu literasi
mengalami peluasan makna. Dalam
perkembangannya, literasi dikaitkan
dengan kemampuan-kemampuan yang lain. Hal ini tertera dalam Gerakan Literasi Sekolah (2016) Literasi Dasar (Basic Literacy),
yaitu kemampuan untuk
mendengarkan, berbicara, membaca,
menulis, dan menghitung (counting)
berkaitan dengan kemampuan
analisis untuk memperhitungkan(calculating), mempersepsikan
informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi
(drawing) berdasarkan pemahaman
dan pengambilan kesimpulan pribadi (Akbar, 2017).
Pendidikan merupakan salah satu bidang
yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Literasi teknologi dalam
konteks pendidikan tidak hanya mencakup kemampuan menggunakan perangkat lunak
dan perangkat keras, tetapi juga kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan
mengevaluasi informasi yang diperoleh melalui teknologi.
Berdasarkan hasil
riset Kominfo (2017) menunjukkan
bahwa motivasi anak
dan remaja dalam
akses internet untuk tujuan
hiburan, media komunikasi,
dan mencari informasi
yang berkaitan dengan
tugas sekolah. Timbulnya penyimpangan
sebagai akibat akses
informasi yang diperoleh
melalui media digital dan
internet seperti tindakan
perundungan (bullying), budaya
mencaci dan memaki melalui
media internet, seperti
facebook, instagram, dll.,
perilaku sex bebas
akibat membuka konten negatif
tanpa pengawasan orang
tua, tindakan plagiat
terhadap hasil karya seseorang menjadi
masalah dalam media
digital (Benaziria, 2018). Hal
ini secara tidak langsung dapat membentuk karakter
generasi muda.
Menurut Slameto minat/motivasi belajar
merupakan rasa suka yang berlebih serta adanya rasa keterikatan terhadap
sesuatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Menurut Belly (2006:4),
minat belajar adalah keinginan yang didorong oleh suatu keinginan setelah
melihat, mengamati dan membandingkan serta mempertimbangkan dengan kebutuhan
yang diinginkannya. minat merupakan keadaan emosi yang ditujukan kepada
sesuatu. Maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan minat ialah suatu
kondisi kejiwaan seseorang untuk dapat menerima atau melakukan sesuatu objek
atau kegiatan tertentu untuk mencapai suatu tujuan.
Pada penelitian (Ramdhayani, 2023) mengatakan
bahwan literasi membuat seseorang untuk berpikir kritis, berkomunikasi lebih
baik, terbuka terhadap perubahan
dan dapat memecahkan
masalah pada berbagai
konteks. Literasi dapat pula meningkatkan karakter
pada seseorang. Kegiatan literasi
dengan aneka ragamnya
sangat berpotensi menjadi sarana untuk pembentukan karakter siswa. Namun
peran orang tua, guru dan kepala
sekolah diperlukan untuk
mengarahkan, membimbing, dan mendampingi para siswa
untuk melakukan aktivitas
literasi secara positif
dan menjunjunng tinggi
nilai-nilai kemanfaatannya.
Literasi teknologi memungkinkan siswa untuk
mengakses beragam sumber informasi dan sumber belajar melalui internet,
perpustakaan digital, dan platform pembelajaran online. Penggunaan teknologi
dalam pembelajaran dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan digital,
kritis, dan kreatif yang penting dalam menghadapi tuntutan dunia kerja yang
semakin terdigitalisasi. Literasi teknologi memiliki peran yang sangat penting
dalam pendidikan, baik bagi siswa maupun pendidik. Dengan memahami pentingnya
literasi teknologi, pendidik dapat merancang pengalaman pembelajaran yang lebih
efektif dan relevan, sementara siswa dapat mengembangkan keterampilan yang
diperlukan untuk sukses di era digital. Dengan integrasi yang tepat, teknologi
dapat menjadi alat yang kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan
mempersiapkan generasi mendatang untuk tantangan masa depan.
Berdasarkan penelitian (Santi dkk., 2022) tentang Peningkatan Literasi Teknologi
Informasi Bagi Perangkat Kelurahan di Lingkungan Kecamatan Ilir Barat Dua Kota
Palembang Kegiatan pelatihan telah dilaksanakan sebanyak dua tahap, yaitu tahap
1 dilaksanakan pada tanggal 2 Desember
2021 terhadap 17
orang perangkat kelurahan
dan kecamatan. Tahap
2 dilaksanakan pada tanggal
3 Desember 2021
terhadap 13 orang
perangkat kelurahan dan
kecamatan. Materi yang diberikan adalah
aplikasi pengolah kata
MS Word, aplikasi
pengolah data MS
Excel, dan aplikasi presentasi MS Powerpoint. Setelah mengikuti
pelatihan ini, peserta
memiliki tambahan pengetahuan terutama tentang ketrampilan dalam menggunakan aplikasi MS Word, terutama penggunaan fasilitas
mailmergeuntuk pembuatan surat.
Selain itu keterampilan peserta
juga meningkat dalam menggunakan aplikasi MS Excel,
terutama penggunaan rumus dan fungsi.
Dengan
semakin tingginya tuntutan
masyarakat terhadap kualitas
layanan publik yang
efektif dan efisien, perangkat
kelurahan harus selalu
meningkatkan pengetahuan dan
keterampilannya, termasuk meningkatkan
literasi teknologi informasi. Dengan demikian, perangkat institusi publik
dituntut untuk mampu mengoperasikan dan
memanfaatkan aplikasi-aplikasi komputer
dalam melayani masyarakat.
Dalam era digital saat ini, literasi
teknologi menjadi keterampilan yang sangat penting bagi para guru.Literasi
teknologi juga telah menjadi keterampilan yang sangat penting dalam dunia
kerja. Kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan beradaptasi dengan teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) memiliki dampak yang signifikan terhadap
produktivitas, inovasi, dan kompetitivitas individu di tempat kerja. Seoranag
guru pada jaman ini harus melek teknlogi mengingat kualitas guru yang hampa
akan teknologi tidak akan mampu menanamkan “daya kritis” kepada murid untuk
menjadi manusia revolusioner. Sehingga mereka terhambat untuk menggali potensi
dirinya. Seldo dalam Hani dan Richardus (2021) mengungkapkan bahwa guru akan
digantikan oleh robot sebelum tahun 2027 dan di Silicon Valley sedang
mengembangang progam yang dapat membaca gelombang otak dan ekspresi wajah anak.
Apabila hal ini tersebut terjadi maka masyarakat sekolah mulai dari guru,
peserta didik dan tenaga kependidikan harus mampu bersaing dengan komputer atau
robot di kemudian hari.
Guru yang gaptek (gagap teknologi) akan
menurunkan derajat kredibilitasnya di hadapan para muridnya sehingga murid
cenderung bersikap underestimate, seolah-olah guru adalah orang dungu di tengah
dunia metropolitan. Ini fenomena yang sering ada dan terjadi di sekeliling
kita. Guru boleh produk tahun 90-an, tapi kapasitas keilmuannya tidak boleh
kalah dengan persaingan zaman (Astini, 2019). UNESCO memberikan catatan bahwa
penguasaan TIK oleh guru berdampak besar terhadap kemajuan pendidikan.
Kompetensi TIK guru dapat dikelompokkan ke dalam enam aspek (ranah/kawasan),
yaitu: 1) Memahami aspek TIK dalam pendidikan. Memahami kebijakan terkait dengan
TIK; 2) Kurikulum dan Penilaian. Guru memahami prinsip dasar penggunaan TIK
dalam pembelajaran Pemakaian TIK dalam proses pembelajaran dan penilaian; 3)
Pedagogi. Guru mengintegrasikan TIK dalam setiap pelaksanaan tugasnya; 4.
Teknologi Informasi dan Komunikasi. Guru menggunakan perangkat TIK; 5)
Organisasi dan Administrasi. Guru mengorganisir pembelajaran dan
mengadminsitrasikannya dengan menggunakan TIK; dan 6) Pembelajaran Guru
Profesional. Guru selalu menggunakan TIK dalam proses pengembangan keprofesian
berkelanjutan.
Pada penelitian (Astini, 2019) bahwa untuk
bisa menggunakan semua media pembelajaran berbasis TIK perlu dikembangkannya
literasi TIK bagi Guru Sekolah Dasar. Literasi TIK bisa dilakukan dengan cara
mengikuti sosialisasi,pelatihan, penataran, seminar dan workshop mengenai TIK.
Untuk itu mutlak diperlukan guru-guru yang
melek dengan TIK khususnya media informasi. Hal ini sering diistilahkan dengan
literasi TIK. Literasi TIK tidak hanya sekedar mengetahui dan mampu mengakses
berbagai piranti TIK. Namun jauh dari itu adalah kemampuan guru untuk
mendapatkan manfaat sesuai kebutuhan bagi dirinya serta kemampuan untuk
menciptakan produk baru berdasarkan krativitas lalu disebarluaskan untuk orang
lain, minimal untuk siswanya sendiri.
Namun, literasi teknologi juga memiliki
tantangan. Salah satu tantangan utama literasi teknologi masa kini adalah
lajunya perkembangan teknologi itu sendiri. Teknologi terus berkembang dengan
cepat, dan individu perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka
agar tetap relevan. Selain itu, adanya kesenjangan digital juga menjadi
tantangan serius dalam literasi teknologi, di mana beberapa kelompok masyarakat
tidak memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan sumber daya digital.
Di sisi lain, literasi teknologi juga
membawa berbagai peluang. Dengan kemampuan menggunakan teknologi secara
efektif, individu dapat memperluas jangkauan informasi, meningkatkan
keterampilan kerja, dan berpartisipasi dalam ekonomi digital. Selain itu, literasi
teknologi juga memungkinkan kolaborasi global, inovasi, dan kreativitas yang
lebih besar.
Dampak dari literasi teknologi yang kuat
dapat dirasakan dalam berbagai bidang. Di sektor pendidikan, literasi teknologi
memungkinkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan adaptif serta pembentukan
karakter. Di dunia kerja, individu dengan literasi teknologi yang baik
cenderung lebih siap menghadapi perubahan dan tuntutan pasar kerja yang terus
berkembang. Selain itu, literasi teknologi juga memengaruhi bagaimana
masyarakat berkomunikasi, mengakses informasi, dan terlibat dalam kehidupan
sosial dan politik.
Dalam rangka meningkatkan literasi
teknologi, individu dapat mengambil berbagai langkah, seperti mengikuti
pelatihan dan kursus, membaca buku dan artikel tentang teknologi, dan
berpartisipasi dalam komunitas teknologi. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga
dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan literasi teknologi, dengan
menyediakan akses dan sumber daya yang diperlukan. Salah satu aspek penting
dari literasi teknologi adalah kemampuan untuk menggunakan perangkat lunak dan
perangkat keras.
Perangkat lunak adalah program komputer
yang digunakan untuk melakukan tugas tertentu, seperti pengolahan kata,
pengolahan data, dan desain grafis. Perangkat keras, di sisi lain, adalah
komponen fisik dari komputer, seperti monitor, keyboard, dan mouse. Kemampuan
untuk menggunakan perangkat lunak dan perangkat keras secara efektif sangat
penting dalam dunia kerja dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, literasi
teknologi juga mencakup kemampuan untuk memahami bahasa pemrograman. Bahasa
pemrograman adalah bahasa yang digunakan untuk menulis program komputer. Dengan
memahami bahasa pemrograman, individu dapat membuat program komputer sendiri
atau memodifikasi program yang sudah ada.
Kemampuan untuk memahami bahasa
pemrograman juga sangat penting dalam industri teknologi, di mana banyak
pekerjaan membutuhkan kemampuan pemrograman. Selain kemampuan teknis, literasi
teknologi juga mencakup kemampuan untuk mengelola data. Data adalah informasi
yang disimpan dalam bentuk digital, seperti file teks, gambar, dan video.
Kemampuan untuk mengelola data meliputi kemampuan untuk menyimpan, mengambil,
dan menganalisis data. Dalam dunia bisnis, kemampuan untuk mengelola data
menjadi semakin penting karena banyak perusahaan mengumpulkan data pelanggan
dan pasar untuk membuat keputusan bisnis yang lebih baik.
Selain itu, literasi teknologi juga
mencakup kemampuan untuk memahami keamanan siber. Keamanan siber adalah praktik
untuk melindungi sistem komputer dan data dari serangan dan ancaman siber.
Dalam era digital saat ini, keamanan siber menjadi semakin penting karena
semakin banyak data yang disimpan secara digital dan semakin banyak serangan
siber yang terjadi. Tantangan utama dalam literasi teknologi adalah lajunya
perkembangan teknologi itu sendiri. Teknologi terus berkembang dengan cepat,
dan individu perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka agar
tetap relevan. Selain itu, adanya kesenjangan digital juga menjadi tantangan
serius dalam literasi teknologi, di mana beberapa kelompok masyarakat tidak
memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan sumber daya digital.
Namun, literasi teknologi juga membawa
berbagai peluang. Dengan kemampuan menggunakan teknologi secara efektif,
individu dapat memperluas jangkauan informasi, meningkatkan keterampilan kerja,
dan berpartisipasi dalam ekonomi digital. Selain itu, literasi teknologi juga
memungkinkan kolaborasi global, inovasi, dan kreativitas yang lebih besar.
Dampak dari literasi teknologi yang kuat dapat dirasakan dalam berbagai bidang.
Literasi teknologi sangat penting dalam era digital ini. Dengan literasi teknologi yang memadai, individu dapat memanfaatkan teknologi secara efektif dan mengatasi tantangan yang terkait dengan penggunaan teknologi. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan literasi teknologi di kalangan masyarakat dan memperkuat peran pendidikan dalam mengembangkan keterampilan digital yang diperlukan untuk sukses di era digital ini. Di sektor pendidikan, literasi teknologi memungkinkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan adaptif serta membentuk karakter. literasi teknologi juga memengaruhi bagaimana masyarakat berkomunikasi, mengakses informasi. Selain itu di dunia kerja, individu dengan literasi teknologi yang baik cenderung lebih siap menghadapi perubahan dan tuntutan pasar kerja yang terus berkembang.
Daftar Pustaka
Akbar. A.
2017. Membudayakan Literasi Dengan Program 6M Di Sekolah Dasar. JPSDVol. 3 No.
1, Hal 42-52.
Astini, N, K, S., 2019. Pentingnya
Literasi Teknologi Informasi Dan Komunikasi Bagi Guru Sekolah Dasar Untuk
Menyiapkan Generasi Milenial. Jurnal sthnmpukuturan, 1(4) 113-120.
Kominfo, B.
H. 2017. Riset
Kominfo dan UNICEF
mengenai perilaku anak
dan remaja dalam menggunakan
internet.
Lestari, Puji.
2019. Peran Guru
Dalam Pendidikan Karakter
Siswa Melalui Budaya Literasi. Prosiding Seminar
Nasional Penguatan Karakter
berbasis Literasi Ajaran Tamansiswa Menghadapi Revolusi
Industri 4.0.
Ramdhayani, E.
2023. Pentingnya Literasi Dalam Menumbuhkan Nilai-Nilai Karakter Di Era Digital.
Jurnal Kependidikan, 7(2), 67-73.
Santati, P., Saftiana, Y., Mavillinda,
H, F., Ghasarma, R. 2022. Peningkatan Literasi Teknologi Informasi Bagi
Perangkat Kelurahan di Lingkungan Kecamatan Ilir Barat Dua
Kota Palembang(Information Technology
Improvement for Village Apparatus in
Ilir Barat Dua Subdistrict, Palembang Municipality). Jurnal
Pengabdian kepada Masyarakat, 2(4), 175-188.
Email : cindyfiricilia@gmail.com
Ig : _cindyfricilia
.jpeg)